Mbak Renny

| |
Mbak Renny, kalo belum sempat mengirimkan cerita ya gak papa. Mengirimkan cerita atau enggak, yang penting itu nggak ngganggu kesibukan & pekerjaan Mbak Renny. Lebih baik Mbak Renny mengerjakan yang lebih penting dikerjakan dulu saja. Nanti setelah ada waktu luang, atau pas ngganggur lama, baru ngerjain yang lain. Kirim cerita ke HP-nya bu redaktur khan nggak begitu penting.

Lalu, mengenai kerusakan komputer Mbak Renny itu,...

Siap grak!! Siap?

Tarik napas dulu aja, tahan, hembuskan, habis itu tenangkan pikiran, dan relakan dengan ikhlas saja file-file yang sudah hilang, walaupun Mbak Renny sudah susah payah membuat hasil kerja Mbak Renny di situ. Saya tahu, mungkin berat untuk merelakan banyak file yang berharga, tapi kalau sudah tidak bisa tertolong lagi filenya, apa boleh buat, kalau sudah hilang semua ya... lebih baik nrimo saja. Entah mau nangis, mau anyel sama komputer, tapi yang paling baik ya... 'Sudahlah'. Biarkan saja. Orang sudah tidak bisa diperbaiki...

Yang penting sekarang. Kalau Mbak Renny ingin mengulang membuat hasil kerja yang lain dengan komputer lagi, ya orek2 dulu lah di kertas, trus baru masukin ke komputer. Atau langsung di back up filenya, biar nggak ilang lagi.

Waduh, mbak, saya kok ngomongnya kayak nggampangke aja gitu ya...padahal khan kalo mau ngganti yang ilang itu khan sama saja kerja keras lagi.

Sudahlah Mbak, sebaiknya sekarang Mbak Renny mulai konsentrasi sama 1 fokus aja (berhubung banyak yang harus Mbak Renny kerjakan). 1 fokus, yaitu 'khusus pekerjaan/kepentingan Mbak Renny saja'. Itu yang harus diutamakan. Kalau misalnya dimintai tolong mengerjakan pekerjaan orang lain pas Mbak Renny banyak kerjaan (kerjaannya Mbak Renny sendiri), sebaiknya (maaf) tolak saja. Itu pun demi kepentingan Mbak Renny sendiri. Kecuali kalau yang ndawuhi bapak atau ibu, dibantu tidak apa-apa.

Maaf ya Mbak Renny, saya kok sepertinya egois, ngojok2-i Mbak Renny 'mentingke awakke dhewe'. Padahal saya tahu, kalau menolak permintaan orang lain, terutama teman, itu rasanya susah...

Tapi terus terang, memang sekarang saya sering nolaki permintaan orang lain sih, kalo 'saya lagi banyak kesibukan buat saya sendiri'. Apalagi kalo yang minta tolong orangnya 'nggatheli' (maaf) banget..

Mbak Renny, yang banyak istirahat & ma'em ya. Biar nggak cepet kecapek-an, dan nggak setress.

Alhamdulillah kalo Mbak Renny tiap hari bisa ketemu sama orang yang memperlakukan orang lain dengan adil, jujur, baik, dan pangerten.

Kalo saya lihat di lingkungan sekitar kota kita ini memang jarang kita temukan orang seperti itu. Hampir tidak ada. Kalo tips saya menghadapi orang-orang yang 'nggatheli' (maaf) kayak temen2 mbak Renny yang di UMS itu, saya kok pilih cuek aja. Biarin orang-orang seperti itu. Kalo saya, mungkin lain kali saya nggak akan tanya-tanya lagi sama mereka, nggak akan mencampuri urusan mereka lagi, dan berusaha untuk nggak terlibat sama mereka. Pokoknya ya kalau misalnya ada urusan sama mereka ya kerjakan saja yang seperlunya. Dan satu lagi. Kalau ngelihat orang2 yang 'nggatheli'(maaf lagi) kayak orang-orang itu, sebaiknya malah berusaha jangan minta tolong sama mereka.

Woia!!! Kok saya extreem banget ya mbak! Edan ra? Apa mungkin karena sikap saya sering kayak gitu kalo ketemu sama orang-orang yang 'nggatheli' (maaf lagi nih), sehingga saya nggak punya temen...

Berarti yang 'nggatheli' (ah maaf!) siapa? Saya apa orang-orang yang saya anggap 'nggatheli' (waduh maaf sekali lagi) itu ya?

Mbak, kalau misalnya 'sekarang' Mbak Renny lebih aman dengan keluarga..ya... di nikmati dan di syukuri saja. Soalnya itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Mbak Renny masih punya orang-orang yang lebih baik 100X daripada orang-orang 'nggatheli' (ups! maaf) itu, apa lagi masih ada yang orang yang mbelani Mbak Renny. Alhamdulillah matur nuwun Gusti Allah...

Mbak Renny, sekarang saya juga jarang keluar rumah. Saya juga jarang nongkrong lama di Studio. Itu karena banyaknya orang yang makin 'nggatheli' (oh, maaf) dan saya tidak pernah merasa nyaman.

Kalau misalnya saya pergi-pergi, itu saya perginya juga pergi sendiri, nggak sama temen...

Saya pingin banget nggak bergantung sama temen. Soalnya kalau saya lihat sekarang banyak sekali orang yang 'tinggi rasa irinya' sehingga mereka pingin menjatuhkan satu sama lain cuman hanya karena mereka pingin merasa lebih hebat. Walaupun kita nggak ada niat mengungguli mereka, mereka pun pasti akan seperti itu....--> terus terang, saya sebenarnya anyel kalau ketemu sama orang yang suka merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih hebat dari Tuhan.. (waks!)

Terus nggak banyak orang yang bisa dipercaya juga. Nggak banyak? Mungkin malah nggak ada....

Tapi mbak Renny, kadang-kadang juga ada temen saya yang bisa menghibur, atau ngancani saya untuk sementara waktu,.. Temen saya ada juga kok yang enggak 'nggatheli' (soriiii), tapi lebih banyak bgt yang 'nggantheli' (soriii lagi).

Sebenarnya kemaren waktu jalan-jalan sama Mbak Renny itu, terus terang lho. Saya nggak merasa direpotin sama Mbak Renny. Saya malah enjoy. Tapi saya takutnya kalau Mbak Renny yang saya repoti.

Mbak, saya ini nggak merasa direpoti kok kalo saya sendiri yang 'menawarkan diri'...

Soalnya perasaan nggak merepotkan orang lain dan tidak direpotkan orang lain itu rasanya...NYAMAN.

Nyaman itu kalo menurut saya sih, nggak usah sama temen aja udah nyaman rasanya. Di rumah pun, saya bisa merasa nyaman kalau tidur, di depan komputer, mendengarkan lagu dan bercanda sama kucing-kucing, atau nonton TV bareng Dik Asti Dik Wuri. Sekarang kenapa kok saya lebih banyak diam? Soalnya saya nggak mau bikin masalah. Kalau saya bikin masalah, nanti malah banyak yang ribut, dan lagi...nggak ada orang yang bakal 'mbelani' saya. Kalo ada orang yang 'mbelani' saya, orang itu pun nantinya akan kena masalah juga, dan nggak enaknya buat saya,.. orang itu akan kena masalah gara-gara saya. Saya pasti akan merasa bersalah kalau misalnya ada yang kayak gitu.

Ya berhubung saya nggak bisa 'mbelani diri saya sendiri, saya malah memilih jalan itu --> Ojo gawe masalah.

Mbak Renny, maaf ya omongan saya banyak yang ngelantur, dan saya banyak ngetik kata 'nggatheli' (mohon dimaafkan)...

Salam

0 comments:

Post a Comment